Berita Inforamsi Bola Terbaru 2023
Home Sitemap Cari disclaimer Contack Me  

5 Tanda Anak Mengalami Separation Anxiety, Orangtua Harus Tahu!

Oleh : Rista Simbolon (Via IDN Times ) | Diterbitkan 1 month ago | Short link: https://temaoppo.com/link/11401051

Bagikan Ke : Facebook Twitter


5 Tanda Anak Mengalami Separation Anxiety, Orangtua Harus Tahu!

Merupakan hal yang wajar jika anak punya kedekatan dengan keluarganya, terlebih kedua orangtuanya. Itu karena orangtua dan keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bagi anak.

Namun ada kalanya anak juga harus memperluas lingkaran sosialnya. Mulai berkenalan dengan orang baru, teman sebaya, dan masuk sekolah. Pada masa-masa ini, beberapa anak akan menolak untuk berteman. Bahkan menolak untuk pergi ke sekolah.

Hal tersebut bisa jadi merupakan gejala Separation Anxiety (SA). Dilansir Standford Medicine Children's Health, Wendy Sue Swanson, MD, MBE, FAAP seorang pakar kesehatan anak menjelaskan bahwa Separation Anxiety merupakan keadaan di mana anak merasakan kecemasan yang besar jika terpisah dari orangtua atau orang terdekatnya.

"Kecemasan dalam berpisah ini merupakan salah satu gangguan pada mental anak. Mereka akan sangat ketakutan jika terpisah dari orangtua atau orang terdekatnya. Anak merasa takut berada dalam bahaya jika tidak bersama dengan mereka," kata Wendy menjelaskan.

Gangguan ini biasanya dialami anak pada usia 18 bulan hingga tiga tahun. Tapi tentu angka ini dapat berbeda pada setiap anak.

Kecemasan ini dapat mengganggu anak dan berdampak pada keadaan emosional mereka jika tidak disadari oleh orangtua. Lantas bagaimana tanda anak yang mengalami separation anxiety? Berikut adalah penjelasannya.

1. Tantrum dan marah jika ditinggal orangtua

Ayah dan bunda bisa melihat gejala ini melalui agresivitas anak saat ditinggalkan orangtuanya. Jika anak selalu menangis saat ditinggal ayahnya pergi bekerja, atau marah hanya karena ditinggal mandi oleh bundanya, maka mungkin ia mengalami separation anxiety.

Dilansir Siloam Hospitals, dr. Rayinda Raumaen Mamahit, Sp.KJ spesialis kejiwaan mengungkapkan jika anak dengan separation anxiety akan menjadi lebih agresif jika ditinggal satu atau kedua orangtuanya. Hal ini berlaku walau hanya ditinggal dengan durasi yang sebentar.

"Anak mungkin akan menangis meraung-raung meskipun hanya berpisah sebentar dengan orangtuanya," kata dr. Riyanda menambahkan.

2. Tidak mau tidur sendiri

Anak-anak yang mengalami separation anxiety tidak akan mau tidur terpisah dari orangtuanya. Apa lagi jika tidur sendirian. Tidak peduli sebagus apapun kamar yang sudah disiapkan, mereka pasti akan menolak.

Jika dipaksakan sekalipun, anak akan mengalami mimpi buruk dan terbangun. Mereka bisa merasakan bahwa ruangan yang mereka tempati bukanlah kamar yang biasa mereka gunakan. Mereka juga bisa merasakan jika orangtuanya diam-diam meninggalkannya.

Mereka akan menangis dan marah saat terbangun kemudian mendapati mereka sendirian di kamar barunya. Selanjutnya, mereka akan kembali ke kamar orangtuanya dan kembali tidur bersama ayah-bunda.

3. Meminta selalu ditemani

Rasa takut jika mereka akan berada dalam bahaya membuat mereka enggan bermain sendirian. Mereka juga tidak mau bersekolah jika tidak ditemani orangtuanya.

Bahkan pada taman bermain dimana terdapat banyak anak kecil seusianya, mereka tidak mau berbaur. Mereka akan memilih duduk di kursi taman, menempel dengan orangtuanya.

Pada kasus yang parah, anak bahkan akan minta ditemani di dalam rumah. Mereka akan mengikuti ke mana pun orangtuanya berpindah, dari satu ruangan ke ruangan lain.

4. Tidak mau digendong orang lain

Anak dengan yang mengalami separation anxiety akan menganggap semua orang, kecuali orang-orang yang dikenalnya, sebagai ancaman. Mereka akan menolak digendong oleh orang lain karena takut akan dipisahkan dari orangtuanya.

Karena itu, sebaiknya jangan langsung memberikan anak untuk digendong orang yang baru ia temui. Jika hal itu dilakukan, dapat dipastikan jika ia akan menangis kencang saat itu juga. Ia juga akan memberontak, menendang, hingga mencakar orang baru yang menggendongnya.

5. Mengalami gejala fisik seperti pusing dan mual jika tidak berada di dekat orangtuanya

Kekhawatiran yang berlebihan ini akan membawa dampak langsung pada fisik anak. Emosi yang meluap saat fase kecemasan dapat mengakibatkan tekanan pada perut dan kepala. Akhirnya tak jarang anak dengan kecemasan ini akan mengalami pusing dan mual.

Dilansir Australian Psychologycal Society, Caroline Manning, MAPS seorang spesialis trauma dan kecemasan anak mengatakan,

"Sangat mungkin bagi anak menderita pusing dan mual, bahkan demam. Apa lagi jika ia banyak menangis. Itu akan menekan kepala dan pencernaanya sehingga menyebabkan sakit," jelasnya.

Itu adalah lima tanda anak yang mengalami separation anxiety. Kombinasi gejala dapat berbeda pada setiap anak. Orangtua perlu tahu cara terbaik untuk mengatasinya, bukan menghindarinya.

Coba untuk membuat anak terbiasa dengan perlahan untuk bertemu orang serta lingkungan baru untuk meminimalisasi gangguan kekhawatiran ini, ya!


5 Tanda Anak Mengalami Separation Anxiety, Orangtua Harus Tahu! | Bang Naga | on 7:25:00am Sabtu 28 Januari 2023 | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: 5 Tanda Anak Mengalami Separation Anxiety, Orangtua Harus Tahu!
Description: 5 Tanda Anak Mengalami Separation Anxiety, Orangtua Harus Tahu!
Alamat: https://temaoppo.com/news/11401051.html
Artikel Terkait















Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

CONTENT

Latest Update











                            7 Momen Jerome Polin Datang ke Nikahan Fans

7 Momen Jerome Polin Datang ke Nikahan Fans


Sumutkota.com 2 ... Read More →




                            5 Tanda Kamu Memiliki Pasangan yang Egois, Bikin Jengah!

5 Tanda Kamu Memiliki Pasangan yang Egois, Bikin Jengah!


Sumutkota.com 1 ... Read More →




Nasional

» Gempa Bumi Hari Ini

menu


Tempo LIPUTAN DAIRI CNN Zodiak
© 2017 - 2023 temaoppo.com | Pers | V.DB: 3.50 | All Right Reserved

DMCA.com Protection Status


Page loads : seconds